Upaya Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) dalam memperkuat kualitas pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) terus dilakukan secara berkelanjutan. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui keikutsertaan UNIMMA dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAs) Tahun 2026 yang diselenggarakan pada Selasa sampai dengan Jumat (27–30/1) di Universitas Muhammadiyah Pringsewu (UMPRI), Lampung. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembekalan awal bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan KKN yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki dampak nyata.
Adapun pelaksanaan KKN MAs 2026 dijadwalkan pada 31 Juli hingga 10 September 2026 di wilayah binaan Universitas Muhammadiyah Malang, dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Untuk mematangkan persiapan, forum ToT turut memaparkan potensi wilayah serta program prioritas Pemerintah Daerah Kabupaten Malang yang diharapkan dapat menjadi acuan penyusunan program pengabdian mahasiswa agar lebih kontekstual dan terarah.
Dalam kegiatan tersebut, UNIMMA diwakili oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Ns. Sumarno Adi Subrata, M.Kep., Ph.D., bersama Ns. Robiul Fitri Masithoh, M.Kep., dosen UNIMMA yang juga tergabung sebagai panitia pusat.
Ketua LPPM UNIMMA menyampaikan bahwa keikutsertaan UNIMMA dalam ToT KKN MAs 2026 tersebut memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan KKN ke depan. “ToT KKN MAs ini sangat penting bagi LPPM UNIMMA untuk melakukan standardisasi manajemen KKN. Melalui kegiatan ini, UNIMMA dapat memperkuat integrasi dan kolaborasi antara pengabdian masyarakat dengan riset dosen yang relevan dengan isu-isu kontemporer nasional,” jelasnya.
Lebih lanjut, Adi menegaskan bahwa hasil ToT diharapkan mampu mendorong pelaksanaan KKN yang lebih berdampak nyata bagi masyarakat. “Harapannya pelaksanaan KKN ke depan benar-benar mampu menyelesaikan problem masyarakat, khususnya melalui implementasi hasil penelitian yang aplikatif di masyarakat,” tambahnya.
Selain penguatan tata kelola KKN, forum ToT juga menjadi ruang kolaborasi antar PTMA dalam memperkuat jejaring dan pertukaran praktik baik. “Forum PTMA ini membuka akses jejaring kemitraan yang lebih luas serta pertukaran best practices. Nilai tambah utamanya adalah penguatan identitas Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam pengabdian, di mana UNIMMA dapat bersinergi dengan PTMA lain untuk memecahkan masalah lintas daerah secara kolektif, sekaligus meningkatkan rekognisi institusi di tingkat nasional,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut setelah mengikuti ToT, LPPM UNIMMA akan segera melakukan sosialisasi teknis kepada mahasiswa serta calon Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). “Untuk tahap awal, ditargetkan sekitar 10 hingga 50 mahasiswa UNIMMA dapat terlibat dalam program KKN MAs 2026,” tuturnya.
Adi berharap pelaksanaan KKN MAs 2026 nantinya mampu memberikan program pengabdian yang inovatif dan berkelanjutan. “Harapan utamanya adalah KKN MAs 2026 mampu melahirkan solusi inovatif bagi masalah kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi di lokasi penempatan. Selain itu, diharapkan adanya keberlanjutan program, sehingga kerja sama yang dibangun selama KKN tetap berjalan meskipun periode pengabdian telah berakhir,” pungkasnya.