Keberadaan Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi persoalan sosial yang dijumpai di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Faktor ekonomi keluarga, keterbatasan akses pendidikan, serta rendahnya motivasi belajar menjadi beberapa penyebab anak memilih berhenti menempuh pendidikan formal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik II Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menginisiasi kegiatan sosialisasi pemberdayaan Karang Taruna Dusun Windu Sajan sebagai salah satu upaya penanganan ATS.

Koordinator KKN Desa Wonolelo, Muhammad Fathan Masykur, menyampaikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya menekankan pentingnya pendidikan, tetapi juga berfokus pada penguatan keterampilan hidup (life skills) berbasis potensi lokal. Program ini disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang mayoritas berprofesi di sektor pertanian dan peternakan. “Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan untuk memotivasi para warga, khususnya pemuda untuk tetap memiliki keterampilan walaupun adanya keterbatasan dalam menempuh pendidikan formal. Keterampilan yang memanfaatkan potensi lokal ini diharapkan dapat menjadi peluang bagi para pemuda untuk meningkatkan taraf hidup mereka,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan, program kerja yang dijalankan tim KKN dirancang aplikatif dan selaras dengan sektor unggulan desa, yaitu pertanian dan peternakan. “Program yang kami tawarkan di sini lebih menitikberatkan pada pemanfaatan potensi lokal desa, seperti budidaya jahe emprit di sektor pertanian dan pembuatan silase untuk pengawetan pakan ternak. Harapannya, masyarakat, terutama pemuda dan ATS dapat memiliki keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan dan bernilai ekonomi,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memperkenalkan budidaya jahe emprit, komoditas yang dinilai memiliki kebutuhan modal relatif kecil, perawatan mudah, serta harga jual yang lebih stabil dibandingkan sejumlah komoditas sayuran. Budidaya jahe emprit diharapkan mampu menjadi peluang usaha baru, khususnya bagi ATS dan pemuda desa.

Pada sektor peternakan, mahasiswa berinovasi dengan pembuatan silase sebagai metode pengawetan pakan ternak. Inovasi ini menjadi solusi ketika cuaca menghambat aktivitas pencarian rumput, terutama pada periode curah hujan tinggi antara Oktober hingga Maret. Mengingat mayoritas warga memelihara sapi, silase dinilai efektif sebagai cadangan pakan yang praktis, ekonomis, dan berdampak pada keberlangsungan ternak.

Kirno, Ketua Karang Taruna, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai sosialisasi mampu menumbuhkan optimisme dan semangat pemuda untuk terus mengembangkan potensi diri. “Saya sebagai Ketua Karang Taruna Dusun Windu Sajan merasa senang karena diberi kesempatan bisa ikut berdiskusi dengan Mbak dan Mas KKN UNIMMA. Karena menurut saya, kegiatan ini memberikan dampak positif, terutama untuk para pemuda yang masih merasa kurang motivasi. Sehingga dengan adanya kegiatan ini menjadi pengingat kami agar bisa menjadi generasi yang lebih baik ke depannya,” tuturnya.

Adapun melalui kegiatan sosialisasi dan pemberdayaan tersebut, mahasiswa KKN UNIMMA berupaya menghadirkan kontribusi nyata dalam penanganan ATS dengan mengombinasikan motivasi pendidikan dan penguatan keterampilan di bidang pertanian serta peternakan. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekaligus membuka peluang ekonomi baru menuju masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan.