Wakil Menteri (Wamen) Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.I.Kom., mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai bagian dari tradisi Muhammadiyah. Hal tersebut disampaikannya dalam Pengajian Ramadan 1447 H Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Jawa Tengah Regional Kedu Raya yang digelar di Auditorium Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) pada Sabtu (7/3).
Kegiatan tersebut diikuti 500 peserta dari berbagai wilayah Kedu Raya yaitu Kota dan Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, serta Kebumen dan menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan nilai-nilai keislaman bagi warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di kawasan tersebut.
Dalam tausiyahnya, Dzulfikar menyampaikan bahwa dalam Muhammadiyah, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan sangatlah kuat, bahkan sering kali lebih tinggi dibandingkan jabatan publik. “Di Muhammadiyah itu, jabatan publik tidak terlalu diunggulkan, makanya di luar acara-acara resmi, kalau belum professor jangan harap duduk di depan. Seperti itulah, kita di Muhammadiyah kecintaannya terhadap ilmu, karena bagi orang Muhammadiyah, ta’allam fainnal ‘ilma zainun liahlihi, kita ini harus belajar karena kita sadar bahwa ilmu itu adalah sejati-jatinya perhiasan bagi orang yang memilikinya,” ujarnya.
Lebih lanjut disampaikan bahwa hal tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11. “Jadi, seyogyanya orang-orang yang berilmu itu adalah orang-orang yang luas hatinya untuk menerima segala bentuk perbedaan,” tuturnya.
Dzulfikar juga menegaskan, semangat mencintai ilmu juga menjadi warisan penting dari pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, yang menempatkan keilmuan sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang tercerahkan. “Kyai Ahmad Dahlan keberpihakannya kepada keilmuan itu sangat fokus dan sangat prioritas. Maka dalam terminologi Muhammadiyah, menyebut ‘aliman itu bukan saja orang-orang yang pintar tetapi orang-orang yang mampu melepaskan dalam konteks kebodohan,” tambahnya.
Menutup tausiyahnya, Dzulfikar berharap agar Pengajian Ramadan yang selalu dirindukan warga Muhammadiyah tersebut dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan pribadi-pribadi yang utuh dengan kepedulian, kepekaan, serta semangat persatuan dan kebersamaan.
Pengajian Ramadan ini juga menjadi bagian dari upaya UNIMMA dalam menghadirkan kampus sebagai ruang silaturahmi sekaligus pusat pengembangan ilmu, dakwah, dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.