Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu (pleco) di sejumlah sungai di Indonesia kini menjadi sorotan. Ikan yang awalnya dikenal sebagai “pembersih” akuarium ini justru berubah menjadi spesies invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Kemampuannya bertahan di lingkungan tercemar serta reproduksi yang sangat cepat membuat ikan ini mendominasi habitat, sementara populasi ikan lokal semakin terdesak. Selama ini, penanganan yang umum dilakukan masih terbatas pada penangkapan dan penguburan, yang dinilai belum memberikan solusi berkelanjutan.
Menanggapi fenomena tersebut, Prof. Yun Arifatul Fatimah, MT., Ph.D, Guru Besar bidang Sustainable Manufacturing sekaligus dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. “Fenomena ikan sapu-sapu ini sebenarnya menjadi cerminan bahwa ekosistem kita sedang tidak dalam kondisi seimbang. Kehadiran mereka yang sangat dominan menunjukkan adanya degradasi lingkungan, terutama akibat pencemaran dan perubahan perilaku manusia,” jelasnya.
Menurutnya, solusi terhadap permasalahan tersebut tidak cukup hanya dengan menghilangkan populasi ikan sapu-sapu, melainkan perlu diarahkan pada upaya pemulihan ekosistem secara menyeluruh melalui pendekatan sistem regeneratif. “Kita tidak bisa semata-mata memusnahkan, karena bagaimanapun mereka bagian dari ekosistem. Yang perlu kita lakukan adalah menyeimbangkan kembali. Konsep regenerative system menjadi penting, yaitu sistem yang tidak hanya menjaga keberlanjutan tetapi sistem yang memperbaiki dan memulihkan ekosistem kita,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof. Yun menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu sebenarnya memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna. Kandungan nutrisinya dapat diolah menjadi pakan ternak, dengan catatan perlu dilakukan pengujian terhadap kemungkinan kandungan logam berat. Selain itu, kulit ikan yang tebal dan bercorak unik juga berpotensi dikembangkan menjadi produk kreatif seperti dompet atau sepatu. “Ikan sapu-sapu juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik hingga biogas. Inovasi-inovasi seperti ini perlu terus dikembangkan melalui riset dan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa skala rumah tangga pun dapat berkontribusi, salah satunya melalui pengolahan sederhana menjadi pupuk organik. “Pengolahan menjadi kompos sangat memungkinkan dilakukan di rumah karena prosesnya relatif sederhana. Namun, untuk pengembangan yang lebih kompleks seperti biogas, tentu diperlukan dukungan fasilitas dan kebijakan dari pemerintah,” pungkas Prof. Yun.
Dengan pendekatan inovatif dan kolaboratif, diharapkan fenomena ikan sapu-sapu tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga peluang untuk mendorong terciptanya sistem yang lebih regeneratif dan berkelanjutan.