Kasus meninggalnya empat orang di kawasan wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung pada Rabu (27/5) lalu masih dalam proses penyelidikan dan memunculkan sejumlah dugaan penyebab, salah satunya terkait kemungkinan paparan gas dari kompor portable yang digunakan untuk memasak di tenda. Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), Prof. Dr. Ir. Muji Setiyo, S.T., M.T., memberikan penjelasan ilmiah tentang potensi bahaya kebocoran gas elpiji di ruang tertutup.

Prof. Muji yang memiliki kepakaran di bidang bahan bakar alternatif menjelaskan bahwa gas yang digunakan pada kompor portable umumnya berupa propana (C3H8), butana (C4H10), atau campuran keduanya. Dalam tabung, gas tersebut berada dalam kondisi cair dan bertekanan, sehingga ketika terjadi kebocoran, cairan tersebut akan berubah menjadi gas dan mengembang dengan volume yang jauh lebih besar. “Ketika gas propana atau butana bocor dari tabung, terjadi proses yang disebut expansion ratio. Molekul yang semula berbentuk cair akan mengembang dan menyebar memenuhi ruang di sekitarnya. Jika kebocoran terjadi di dalam tenda yang tertutup, maka gas dapat dengan cepat memenuhi area tersebut,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Muji mengatakan, karakteristik elpiji berbeda dengan udara. Dalam fase gas atau uap, elpiji memiliki massa jenis yang lebih besar dibandingkan udara sehingga cenderung bergerak ke bagian bawah ruangan. “Spesific gravity elpiji dalam fase gas setara 1,5 hingga 2 tergantung campurannya, sedangkan udara bernilai 1. Artinya, gas propana atau butana lebih berat daripada udara. Dalam kondisi lingkungan yang dingin seperti Posong di kawasan pegunungan, gas yang bocor akan cenderung turun dan berkumpul di bagian bawah ruang tertutup, sementara oksigen terdorong ke bagian atas,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko serius bagi orang yang berada di dalam tenda, terutama ketika sedang beristirahat atau tidur. Posisi tubuh yang berada dekat dengan lantai tenda membuat seseorang lebih berpeluang menghirup gas yang terkumpul di bagian bawah. “Jika seseorang menghirup gas propana atau butana tersebut, maka oksigen yang masuk ke tubuh akan tersingkirkan. Dalam kondisi seperti itu, seseorang akan pingsan kemudian meninggal karena kekurangan oksigen,” ungkapnya.

Meskipun demikian, Prof. Muji yang banyak meneliti tentang elpiji menegaskan bahwa penjelasan tersebut merupakan kajian ilmiah berdasarkan karakteristik elpiji dan tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan penyebab pasti dari peristiwa di Posong. “Penyebab kematian tetap menjadi kewenangan aparat dan tim forensik yang sedang melakukan investigasi,” tuturnya.

Melalui penjelasan tersebut, Prof. Muji juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan tabung gas portable, khususnya di ruang tertutup seperti tenda. Penggunaan peralatan berbahan bakar gas sebaiknya dilakukan pada area dengan sirkulasi udara yang memadai untuk menghindari risiko kebocoran dan paparan gas berbahaya.

Adapun sebagai perguruan tinggi yang mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis riset dan kemanfaatan bagi masyarakat, UNIMMA terus mendorong peran akademisi dalam memberikan edukasi ilmiah terhadap berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat, sehingga dapat menjadi referensi yang objektif dan berbasis keilmuan.