Kepemimpinan yang kuat tidak lahir hanya dari kemampuan memimpin, tetapi juga dari akar nilai dan arah perjuangan yang jelas. Gagasan tersebut menjadi pesan utama yang disampaikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), Drs. Sugiyono, M.Si saat menjadi narasumber dalam Studium Generale Sekolah Kepemimpinan dengan tema “Etika di Ats Kuasa”. Kegiatan diselenggarakan oleh Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Agama Islam (FAI) berkolaborasi dengan IMM Fakultas Teknik (FT) UNIMMA di Aula Fikes Kampus 2 UNIMMA pada Kamis (28/5).
Dalam kesempatan tersebut, Sugiyono menyampaikan materi berjudul “Kepemimpinan Berkemajuan yang Berakar dan Berarah”. Dipaparkan, tantangan kepemimpinan di tengah era disrupsi teknologi dan krisis moral, menuntut hadirnya pemimpin visioner namun tetap berpijak pada nilai-nilai yang kuat. “IMM memiliki peran strategis sebagai laboratorium kader peradaban yang menyiapkan generasi pemimpin masa depan,” ujarnya.
Sugiyono menjelaskan bahwa substansi kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mempengaruhi (influence) anggota organisasi untuk mewujudkan visi bersama, tetapi juga kemampuan mengarahkan (direction) seluruh sumber daya agar berjalan sesuai dengan tujuan organisasi. “Kepemimpinan adalah kemampuan memengaruhi dan mengarahkan untuk menghadirkan perubahan yang membawa kemaslahatan. Karena itu, seorang pemimpin harus memiliki fondasi nilai yang kuat sekaligus visi masa depan yang jelas,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan, kepemimpinan berkemajuan harus memiliki dua karakter utama, yakni berakar dan berarah. Berakar berarti memiliki landasan nilai, pemikiran, dan sejarah yang kuat sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak. Sementara berarah berarti memiliki tujuan yang jelas, visioner, mampu melakukan transformasi, serta siap menghadapi tantangan masa depan. “Kepemimpinan berkemajuan yang berakar dan berarah adalah kepemimpinan yang memadukan kekuatan akar nilai dan pemikiran dengan arah masa depan yang jelas untuk menghadirkan kemajuan peradaban, keadilan sosial, dan rahmat bagi semesta,” jelasnya.
Menurut Sugiyono, IMM diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin berkemajuan yang berakar pada nilai dan ilmu pengetahuan, berorientasi pada transformasi peradaban, serta menjadi pelopor perubahan sosial di tengah masyarakat.
Melalui Studium Generale tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai kepemimpinan, tetapi juga didorong untuk membangun integritas, etika, dan visi perubahan sebagai bekal dalam menjalankan peran kepemimpinan di masa mendatang. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kaderisasi IMM dalam menyiapkan generasi pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar nilai yang menjadi pijakannya.