Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) terus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal. Kali ini, tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNIMMA yang diketuai oleh Nur Laila Yuliani, S.E., M.Sc., Ak. berkolaborasi dengan Universitas Boyolali (UBY) dan bekerja sama dengan masyarakat Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar pepaya muda dan pepaya reject yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Program yang dilaksanakan pada Jumat (7/8) di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Guyub Rukun Desa Wringinputih tersebut merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026.
Laila menyampaikan, melalui program tersebut, tim pengabdian mendorong peningkatan nilai tambah hasil pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa. “Melimpahnya pepaya sebenarnya adalah berkah, tapi kalau tidak diimbangi dengan pengolahan dan strategi pemasaran yang tepat, justru bisa menekan harga jual di tingkat petani. Karena itu kami hadir untuk membantu warga melihat peluang lain dari hasil panen mereka,” ujarnya.
Dijelaskan, selama ini, melimpahnya hasil panen pepaya di Desa Wringinputih sering menjadi tantangan bagi para petani. Sebagian besar hasil panen dijual dalam bentuk buah segar sehingga harga jual mudah turun ketika memasuki masa panen raya akibat pasokan yang berlimpah di pasaran.
Sementara itu, Direktur BUMDes Guyub Rukun Desa Wringinputih, Rizal Arif Windriatmoko, mengatakan kondisi tersebut perlu segera diatasi mengingat Wringinputih merupakan salah satu dari tiga desa dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Kabupaten Magelang. Menurutnya, pepaya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, tidak hanya ketika buah telah matang, tetapi juga saat masih muda. “Persoalan ini semakin mendesak untuk diatasi mengingat Wringinputih tercatat sebagai salah satu dari tiga desa dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Kabupaten Magelang. Padahal buah pepaya tidak hanya bisa dinikmati ketika matang, tetapi buah pepaya yang masih mentah juga dapat diolah sebagai produk olahan yang bernilai ekonomis yang lebih tinggi daripada pepaya yang dijual matang,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pendampingan mulai dari proses mengupas pepaya muda hingga mengolahnya menjadi aneka produk siap konsumsi. Beragam inovasi yang dihasilkan antara lain stik pepaya muda, stik bawang pepaya, abon pepaya, serta sambal kering pepaya. Produk-produk tersebut diharapkan dapat menjadi oleh-oleh khas Desa Wringinputih, terlebih lokasinya yang berada di kawasan penyangga destinasi wisata Candi Borobudur.
Selain meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil pertanian, kegiatan ini juga memberikan wawasan tentang pengembangan produk yang memiliki daya simpan lebih lama dan nilai jual lebih tinggi dibandingkan menjual buah segar. Dengan inovasi tersebut, masyarakat didorong untuk membangun usaha yang berkelanjutan sehingga mampu memperkuat perekonomian desa secara mandiri.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, UNIMMA terus berkomitmen menghadirkan program pengabdian yang tidak hanya memberikan solusi atas permasalahan di masyarakat, tetapi juga menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat.