Literasi keuangan menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda di tengah pesatnya perkembangan era digital. Menjawab hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menggelar Seminar Accounting Fair 2026 dengan tema “Anti FOMO, Pro Finansial: Cara Cerdas Gen Z Kelola Uang di Era Modern”. Kegiatan dilaksanakan di Auditorium Kampus 1 UNIMMA pada Kamis (21/5) dan diikuti oleh mahasiswa serta guru dan siswa SMA/SMK di wilayah Magelang.

Seminar kali ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Drs. Isa Ashari, M.M., Ketua Ikatan Alumni UNIMMA sekaligus pengusaha, yang membagikan strategi pengelolaan keuangan secara cerdas di era modern. Selain itu, hadir pula Indra Kusumawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang mengulas pentingnya kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan serta membangun prinsip diri agar tidak terjebak fenomena fear of missing out (FOMO).

Kaprodi Akuntansi FEB UNIMMA, Anissa Hakim Purwantini, S.E., M.Sc., dalam sambutannya menegaskan bahwa literasi keuangan merupakan keterampilan hidup yang penting bagi semua generasi, terutama generasi muda yang tumbuh di era digital yang penuh peluang sekaligus tantangan. “Pengelolaan keuangan bukan hanya relevan bagi Gen Z, tetapi bagi semua generasi. Namun, generasi muda saat ini hidup di era digital yang sangat disruptif, yang di satu sisi membuka banyak peluang, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam mengendalikan perilaku konsumtif,” ujarnya.

Anissa juga menyoroti fenomena impulsive buying yang semakin marak akibat kemudahan transaksi digital dan promosi di media sosial maupun marketplace. Ia mengingatkan bahwa kemudahan akses terhadap layanan pay later dan pinjaman online berpotensi mendorong perilaku konsumtif yang tidak terkontrol. “Seringkali kita membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena dorongan sesaat. Bahkan, ketika tidak mampu membeli, kini tersedia berbagai fasilitas yang memudahkan untuk berhutang. Jika tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang baik, hal ini dapat berdampak negatif,” tambahnya.

Lebih lanjut, Anissa mengungkapkan bahwa berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2026, sebesar 48,65% kredit macet pinjaman online berasal dari kelompok usia 19 sampai 34 tahun, dengan total nilai pinjaman mencapai Rp101,03 triliun dan pertumbuhan tahunan sebesar 26,25%.

Melalui kegiatan tersebut, Anissa mengajak peserta untuk mengubah paradigma FOMO menjadi lebih positif, dengan tidak lagi sekadar mengikuti tren konsumtif, tetapi berfokus pada pengelolaan keuangan yang bijak. “FOMO perlu kita maknai ulang. Bukan lagi takut ketinggalan tren karena standar barang atau gaya hidup, tetapi menjadi dorongan untuk tidak ketinggalan dalam hal literasi dan kecerdasan finansial,” pungkasnya.

Melalui Seminar Accounting Fair 2026, UNIMMA berharap dapat membekali generasi muda dengan pemahaman dan keterampilan dalam mengelola keuangan secara bijak, sehingga mampu menghadapi dinamika era modern dengan lebih siap, mandiri, dan bertanggung jawab.