Menjadi orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membangun fondasi emosional dan karakter yang akan membentuk masa depan mereka. Pesan tersebut disampaikan Rayinda Faizah, M.Psi., Psikolog, dosen Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Humaniora (FPH) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) dalam pemaparannya berjudul “The Art of Parenting” di Aula Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Magelang pada Kamis (25/6).

Dalam kesempatan tersebut, Rayinda menjelaskan, pengasuhan merupakan perjalanan sepanjang hayat yang membutuhkan kesadaran, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar. “Menjadi orang tua adalah perjalanan sepanjang hayat yang akan membentuk masa depan anak. Tugas orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga memberikan dukungan emosional, arahan, kesabaran, dan kasih sayang agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, dan bahagia,” ujarnya.

Rayinda menuturkan setiap anak memiliki keunikan dengan karakter, kebutuhan, serta cara belajar yang berbeda sehingga orang tua perlu membangun kedekatan. “Pengasuhan yang efektif berawal dari kesediaan orang tua untuk mendengarkan dan mengamati, sehingga dapat memahami serta membangun kedekatan yang lebih kuat dengan anak,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan untuk menerapkan konsep disiplin positif kepada anak. “Disiplin positif mengajarkan anak memahami aturan dan konsekuensi secara jelas tanpa mengabaikan perasaan mereka. Pendekatan ini membantu anak belajar bertanggung jawab melalui komunikasi yang sehat, bukan rasa takut,” jelasnya.

Selain itu, orang tua juga perlu memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kemandirian. “Kesempatan mencoba, mengambil keputusan sederhana, hingga menyelesaikan masalah sendiri akan membantu anak membangun rasa percaya diri. Dalam proses tersebut, orang tua tetap berperan sebagai pendamping dan pembimbing,” tambahnya.

Lebih lanjut, Rayinda menyampaikan bahwa komunikasi menjadi fondasi penting dalam hubungan orang tua dan anak. Ia mendorong orang tua untuk menciptakan suasana yang terbuka sehingga anak merasa aman menyampaikan pikiran maupun perasaannya tanpa takut dihakimi. “Komunikasi yang terbuka dan jujur dapat membangun kepercayaan antara orang tua dan anak. Ajak anak untuk berani mengungkapkan perasaan dan pikirannya, serta berikan waktu untuk mendengarkan tanpa memberikan penilaian,” ujarnya.

Rayinda juga menekankan, anak belajar lebih banyak dari perilaku orang tua dibandingkan nasihat yang diberikan. Oleh karena itu, keteladanan dalam menunjukkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kebaikan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di dalam keluarga.

Di akhir paparannya, Rayinda mengingatkan, pola asuh harus berkembang seiring bertambahnya usia anak. Pendekatan yang efektif pada masa kanak-kanak belum tentu sesuai ketika anak memasuki usia remaja. Fleksibilitas dan kemauan orang tua untuk terus belajar menjadi kunci agar pengasuhan tetap relevan dengan kebutuhan perkembangan anak.

Adapun sebagai penutup, Rayinda menegaskan bahwa parenting merupakan seni yang memerlukan hati, kesabaran, dan kesadaran dalam setiap prosesnya. “Ketika kita mengasuh dengan penuh kesadaran, cinta, dan penghormatan kepada anak, kita tidak hanya membentuk pribadi yang baik, tetapi juga membangun generasi dewasa yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia,” pungkasnya.