Kabar meninggalnya seorang anak sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengalami tekanan psikologis karena tidak mampu membeli alat tulis sederhana menjadi duka mendalam sekaligus alarm serius bagi dunia pendidikan dan perlindungan anak. Tragedi tersebut tidak semata berbicara tentang kemiskinan, tetapi juga menyoroti aspek kesehatan jiwa anak yang kerap luput dari perhatian.

Dosen Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) sekaligus praktisi keperawatan jiwa, Ns. Muhammad Khoirul Amin, M.Kep., Sp.Kep.J., menegaskan bahwa peristiwa ini perlu dilihat dari perspektif psikologi perkembangan anak.

Menurutnya, anak usia sekolah berada pada fase industry vs inferiority sebagaimana dikemukakan Erik Erikson. Pada tahap ini, anak sangat membutuhkan pengakuan, rasa mampu, serta dukungan dari lingkungan sekitar. “Ketika anak terus merasa gagal, malu, atau tidak mampu memenuhi tuntutan sekolah, maka ia berisiko mengalami perasaan rendah diri yang mendalam. Bagi anak, ketidakmampuan membeli pena bukan sekadar soal benda, tetapi simbol bahwa dirinya tidak cukup baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, kapasitas regulasi emosi anak belum berkembang matang seperti orang dewasa. Karena itu, tekanan yang tampak kecil bagi orang dewasa dapat dirasakan sangat besar dan menakutkan oleh anak.

Beberapa faktor psikologis yang kerap menyertai kasus serupa antara lain rasa malu dan takut dipermalukan, ketakutan mengecewakan orang tua atau guru, tidak adanya ruang aman untuk bercerita, serta tekanan ekonomi keluarga yang berdampak pada kondisi mental anak. “Ketika semua tekanan itu menumpuk tanpa dukungan emosional, anak bisa merasa tidak memiliki jalan keluar. Di sinilah risiko keputusasaan muncul,” ujarnya.

Khoirul menekankan bahwa dalam situasi seperti itu, anak tidak dapat disalahkan. Justru, tragedi tersebut mencerminkan belum optimalnya kepekaan lingkungan dalam membaca sinyal distress pada anak.

Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda tekanan psikologis sebenarnya kerap muncul, seperti anak menjadi lebih murung, menarik diri, takut ke sekolah, atau mengalami perubahan perilaku mendadak. Namun, gejala tersebut sering disalahartikan sebagai kenakalan atau sikap manja.

Lebih lanjut, Khoirul menyoroti pentingnya peran sekolah, keluarga, dan negara dalam membangun sistem perlindungan psikologis bagi anak. “Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman secara psikologis. Guru perlu dibekali literasi kesehatan jiwa anak, bukan semata mengejar target kurikulum,” tegasnya.

Dari sisi keluarga, komunikasi hangat menjadi kunci agar anak merasa aman untuk mengungkapkan kesulitan yang dihadapi. Sementara itu, negara dan masyarakat memiliki tanggung jawab memastikan kemiskinan tidak berkembang menjadi luka psikologis yang membahayakan jiwa anak.

Sebagai langkah pencegahan, Khoirul Amin menguraikan beberapa upaya yang dapat dilakukan, di antaranya menciptakan budaya sekolah yang empatik dan non-menghukum, menyediakan dukungan psikososial di lingkungan pendidikan, meningkatkan kepekaan terhadap tanda stres pada anak, memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi, serta membuka akses layanan kesehatan mental anak.

Menurutnya, tragedi ini harus menjadi refleksi bersama bahwa kesehatan jiwa anak sama pentingnya dengan capaian akademik. “Anak-anak tidak membutuhkan tuntutan berlebih. Mereka membutuhkan rasa aman, dipahami, dan didukung. Satu alat tulis yang tak terbeli seharusnya tidak pernah berujung pada hilangnya satu nyawa kecil yang berharga,” pungkasnya.

UNIMMA melalui Fakultas Ilmu Kesehatan terus berkomitmen mendorong literasi kesehatan jiwa, khususnya pada anak dan remaja, sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat, inklusif, dan berkeadilan.