Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi perhatian publik. Menanggapi kondisi tersebut, Ravindra Ardiana Darmadi, S.M., M.Sc, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), mengajak masyarakat untuk tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan melalui pengelolaan keuangan yang lebih terencana.
Ravindra menjelaskan bahwa kenaikan kurs dolar yang terjadi saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis ekonomi yang pernah dialami Indonesia pada tahun 1966 maupun 1998. “Krisis 66 dan 98 itu memiliki sesuatu yang berbeda dengan saat ini. Kalau di tahun tersebut, kurs mengalami pelonjakan yang sangat tinggi sekali, persentase pelonjakan dari dua ribu sampai lima belas ribu, itu sangat cepat sekali, berbeda dengan hari ini. Dan kita tidak bisa menganggap ini aman juga, yang terpenting kita perlu waspada,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak pelemahan rupiah sesungguhnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, bahkan oleh kelompok seperti petani. “Seorang petani itu tidak tahu terkait inflasi, mereka tidak tahu terkait pertumbuhan ekonomi tapi mereka paham kurs naik harga semakin mahal,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ravindra menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah munculnya distrust (ketidakpercayaan) masyarakat sehingga mencari instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven) untuk menjaga nilai kekayaannya. “Ketika masyarakat merasa perlu melindungi aset yang dimiliki, mereka cenderung memilih dolar Amerika sebagai tempat menyimpan nilai. Semakin tinggi permintaan terhadap dolar, maka nilainya akan semakin menguat, hal itu juga diperparah dengan IHSG kita,” jelasnya.
Di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis, Ravindra menekankan pentingnya literasi dan perencanaan keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, setiap individu perlu memahami aset yang dimiliki dan menentukan strategi penyimpanan maupun pengelolaannya secara tepat. “Pelajar perlu mengetahui jumlah tabungan yang mereka miliki. Begitu pula pekerja, mereka harus memahami seluruh aset yang dimiliki, termasuk tabungan. Dari situ, kita bisa merencanakan bagaimana cara menjaga nilai aset tersebut,” katanya.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menerapkan konsep hedging atau perlindungan nilai aset. Bentuknya dapat berupa diversifikasi instrumen penyimpanan kekayaan, seperti kepemilikan mata uang asing secara proporsional maupun investasi emas. ” Kita bisa melakukan penyimpanan atau pembelian kurs dolar. Yang kedua adalah emas, walaupun harga emas sekarang juga volatil tapi paling tidak itu menjadi barier kedua dalam melakukan lindung nilai dari aset kita,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Ravindra juga melihat peluang penguatan ekonomi masyarakat melalui investasi produktif di sektor peternakan dan pertanian. Menurutnya, skema kerja sama antara pemilik modal dan pelaku usaha yang memiliki keahlian dapat menjadi solusi yang saling menguntungkan.
Melalui edukasi ekonomi dari akademisinya, UNIMMA mengajak masyarakat untuk tidak larut dalam kepanikan, melainkan memperkuat literasi keuangan dan membangun kebiasaan mengelola aset secara bijak. UNIMMA juga berharap masyarakat semakin adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi.