Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) bersama Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI) menyampaikan berbagai hasil riset, pengalaman lapangan, dan praktik baik diversifikasi tanaman kepada Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Koordinator Bidang Pangan, serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dalam audiensi tersebut, MTCC UNIMMA menegaskan komitmennya menghadirkan data dan fakta berbasis bukti ilmiah sebagai landasan penyusunan kebijakan yang tidak hanya berpihak pada aspek kesehatan masyarakat, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan petani melalui pengembangan komoditas alternatif selain tembakau.
Peneliti MTCC UNIMMA, Nugroho Agung Prabowo, S.T., M.Kom., Ph.D., menyampaikan bahwa hasil audiensi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan berbasis bukti ilmiah. “Pengalaman petani yang berhasil meningkatkan kesejahteraan melalui diversifikasi tanaman membuktikan bahwa transformasi sektor pertanian dapat diwujudkan melalui pendampingan, inovasi, penguatan infrastruktur, dan kolaborasi lintas sektor. MTCC UNIMMA berkomitmen untuk terus menghadirkan hasil riset, pendampingan masyarakat, serta praktik-praktik baik sebagai referensi ilmiah dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas hidup petani Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum FPMI, Istanto, memaparkan pengalaman petani di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, yang berhasil mengembangkan diversifikasi tanaman setelah dua kali mengalami gagal panen tembakau akibat perubahan iklim. “Melalui pendampingan MTCC UNIMMA, para petani beralih mengembangkan ubi jalar, hortikultura, kopi, dan tanaman pangan lainnya yang terbukti memberikan pendapatan lebih stabil sekaligus membuka peluang pengembangan industri pengolahan hasil pertanian,” ujarnya.
Disampaikan juga, kendala utama petani saat ini bukan lagi kemauan untuk beralih dari tembakau, tetapi keterbatasan infrastruktur penyediaan air yang masih menjadi hambatan dalam mengembangkan komoditas alternatif yang lebih menguntungkan.
Dalam kesempatan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., menilai praktik baik diversifikasi tanaman yang dilakukan petani bersama MTCC UNIMMA perlu didokumentasikan dan dijadikan model pembelajaran bagi daerah sentra tembakau lainnya. Disebutkan, Kemenko PMK membuka peluang penyelenggaraan forum dialog yang mempertemukan pemerintah, akademisi, organisasi petani, dan berbagai pemangku kepentingan dengan UNIMMA sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan.
Adapun Kementerian Koordinator Bidang Pangan meminta MTCC UNIMMA bersama FPMI segera menyusun proposal kebutuhan pembangunan infrastruktur pendukung, seperti sumur bor dan embung, sebagai dasar tindak lanjut lintas kementerian.
Dukungan serupa juga disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha. Menurutnya, pengalaman petani yang berhasil melakukan alih tanam memberikan perspektif baru dalam penyusunan kebijakan nasional. Disampaikan, pementerian Kesehatan akan mengkaji kemungkinan pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), khususnya sektor kesehatan, untuk mendukung pembangunan sarana air bagi petani apabila sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Melalui audiensi tersebut, UNIMMA terus mengambil peran dalam menjembatani hasil riset dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Kolaborasi bersama pemerintah dan kelompok petani diharapkan dapat mendorong lahirnya kebijakan yang lebih responsif sekaligus membuka ruang bagi pengembangan usaha tani yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani.