Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) mengukuhkan Prof. Dr. Uky Yudatama, S.Si., M.Kom., M.M., M.Psi sebagai Guru Besar dalam bidang kepakaran Ilmu Tata Kelola dan Infrastruktur Teknologi Informasi (TI). Pengukuhan dilaksanakan pada Selasa (19/5) di Auditorium Kampus 1 UNIMMA.
Dalam kesempatan tersebut, hadir Prof. H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D, Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, yang menyampaikan pesan khusus kepada para guru besar.
Dalam paparannya, Prof. Ahmad menyoroti persentase jumlah guru besar dibandingkan jumlah dosen di Indonesia yang masih relatif rendah dibandingkan negara lain. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), untuk terus meningkatkan kualitas akademik.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberadaan guru besar merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi. “Dengan potensi yang dimiliki, PTMA merupakan kekuatan besar yang perlu terus dimaksimalkan. Karena itu, peluang Universitas Muhammadiyah Magelang untuk menambah jumlah guru besar pada masa mendatang menjadi langkah strategis yang perlu terus didorong,” ujarnya.
Kepada para guru besar, Prof. Ahmad menyampaikan pesan dengan mengutip Al-Qur’an surat Yusuf ayat 76, bahwa di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui. Ia mengaitkan ayat tersebut dengan kisah Nabi Yusuf AS yang menggunakan strategi untuk menahan saudaranya, Bunyamin, agar tetap tinggal di Mesir. Dari kisah itu, ia menekankan bahwa kecerdasan manusia, betapapun tinggi, tetap memiliki batas, karena di atas seluruh pengetahuan manusia terdapat ilmu Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Menurutnya, ilmu yang dimiliki manusia dibatasi oleh ruang, waktu, disiplin, serta kapasitas akal. “Bahkan ilmu seorang guru besar sekalipun masih berada dalam tingkatan yang terbatas. Di atas pengetahuan manusia terdapat pengetahuan profetik, dan puncaknya adalah Al-‘Alim, yakni Allah SWT,” tuturnya.
Prof Ahmad juga menekankan pentingnya guru besar untuk terus meningkatkan kapasitas diri dengan membangun karakter ulul albab. “Guru besar harus memiliki kerendahan hati intelektual agar terhindar dari otoritarianisme akademik dan sifat ujub. Selain itu, harus ada kesadaran epistemik bahwa capaian akademik bersifat sementara dan bukan kebenaran absolut. Seluruh rantai pengetahuan pada akhirnya bersumber dan bermuara kepada Allah SWT,” jelasnya.
Ia menambahkan, semakin besar pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin luas pula wilayah ketidaktahuan yang disadari. Karena itu, guru besar perlu menolak stagnasi, membuka ruang dialog yang lebih luas, serta mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan (from knowledge to wisdom).
Menutup sambutannya, Prof. Ahmad mengingatkan bahwa setelah mencapai jabatan guru besar, seseorang perlu menyadari bahwa keilmuan harus dirajut melalui kerja sama multidisiplin. Menurutnya, kemajuan sejati tidak lahir dari isolasi, melainkan dari kemampuan guru besar menjadi penghubung lintas disiplin ilmu.