Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) melalui Dosen Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), Ns. Muhammad Khoirul Amin, M.Kep., Sp.Kep.J., mengajak masyarakat memaknai puasa Ramadan tidak sekadar sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum melatih regulasi emosi.

Menurut dosen sekaligus praktisi keperawatan jiwa tersebut, ungkapan “Maklum ya, lagi puasa” kerap dijadikan pembenaran saat seseorang mudah tersinggung atau berbicara dengan nada tinggi. Padahal, kondisi marah saat puasa tidak selalu semata-mata dipicu oleh rasa lapar. “Secara fisiologis, ketika tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman selama berjam-jam, kadar gula darah memang menurun. Kondisi ini bisa membuat seseorang lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan lebih sensitif. Istilah populernya ‘hangry’, hungry dan angry. Dalam batas tertentu, ini wajar karena tubuh sedang beradaptasi,” jelasnya.

Namun demikian, Khoirul menegaskan bahwa terdapat perbedaan antara kondisi mudah lelah dengan respons emosional yang meledak-ledak. Jika setiap Ramadan seseorang justru menjadi lebih kasar, lebih emosional, bahkan melukai orang lain dengan kata-kata, maka persoalannya kemungkinan bukan hanya lapar, melainkan berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa puasa sejatinya merupakan latihan pengendalian diri. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang yang berpuasa dianjurkan untuk tidak berkata kotor dan tidak berteriak-teriak. Jika ada yang mencaci, hendaknya ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’. “Pesan ini sangat jelas. Puasa adalah momentum memperkuat regulasi emosi, bukan melemahkannya,” ujarnya.

Regulasi emosi sendiri merupakan kemampuan untuk mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami pemicunya, serta mengelola respons agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jika lapar menjadi alasan untuk meluapkan amarah, bisa jadi selama ini individu tersebut memang belum terbiasa mengelola emosi secara sehat.

Ia menggambarkan ilustrasi sederhana dalam kehidupan keluarga. Seorang ayah pulang kerja dalam keadaan lelah dan lapar, kemudian membentak anak dan menyalahkan situasi dengan alasan sedang berpuasa. Jika ditelusuri lebih dalam, bisa jadi yang terjadi bukan sekadar lapar, tetapi akumulasi stres pekerjaan, kelelahan kronis, atau beban emosional yang selama ini dipendam. “Puasa sering kali hanya membuka ‘tutupnya’. Emosi yang selama ini ditekan muncul ke permukaan. Dalam perspektif kesehatan jiwa, ini berkaitan dengan kemampuan coping dan pengelolaan stres,” terangnya.

Secara psikologis, ada beberapa faktor yang membuat puasa dapat memperjelas persoalan emosi. Pertama, energi fisik dan mental yang menurun dapat memengaruhi kontrol diri. Kedua, tanpa distraksi seperti makanan, kopi, atau hiburan, seseorang menjadi lebih sadar terhadap kegelisahan batin. Ketiga, ekspektasi sosial yang tinggi terhadap kesabaran di bulan Ramadan justru dapat menimbulkan tekanan tersendiri.

Sebagai langkah preventif, ia menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan agar puasa benar-benar menjadi latihan jiwa. Di antaranya mengenali pola emosi pribadi, memperbaiki kualitas sahur dengan asupan berindeks glikemik stabil seperti protein dan serat, melatih jeda emosional melalui teknik pernapasan sederhana, serta menumbuhkan self-compassion. “Tidak apa-apa merasa lelah atau sensitif. Itu manusiawi. Tetapi bukan berarti kita bebas melukai orang lain. Kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan,” tegasnya.

Melalui perspektif kesehatan jiwa ini, UNIMMA berharap Ramadan dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri secara utuh—baik spiritual maupun emosional. Sebab pada akhirnya, menahan lapar mungkin terasa lebih mudah, namun menahan ego dan mengelola emosi dengan bijak adalah tantangan yang sesungguhnya.