Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) melalui Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Studi Islam (LP2SI) mengawali rangkaian Ramadhan di Kampus (RDK) dengan Tabligh Akbar Tarhib Ramadhan. Acara dilaksanakan pada Jumat (13/2) di Auditorium Kampus 1 UNIMMA dan menghadirkan narasumber, Dr. KH. Khoiruddin Bashori, M.Si, Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dengan materi berjudul “Puasa dan Spiritualitas Transformatif”, Khoiruddin memaparkan bahwa puasa tidak berhenti pada dimensi ibadah ritual, tetapi menjadi sarana transformasi kepribadian seorang muslim. “Puasa itu bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah proses transformasi spiritual, dari lalai menjadi sadar, dari dikuasai nafsu menjadi mampu menguasai nafsu, dari orientasi dunia menjadi orientasi kepada Allah, dan juga dari sikap egois menjadi empatik,” jelasnya.

Ia menerangkan, tujuan utama puasa bermuara pada ketakwaan yang melahirkan falah yaitu keberhasilan dan kebahagiaan hidup. “Ketika Al-Qur’an memerintahkan kita bertakwa agar memperoleh falah, itu berarti puasa diarahkan untuk menghadirkan keberhasilan hidup, keselamatan, kebahagiaan, dan kemenangan, baik di dunia maupun akhirat,” ujarnya.

Menurutnya, kebahagiaan yang lahir dari puasa juga berkaitan dengan cara manusia memandang hidup. Khoiruddin mengutip konsep Three A’s of Happiness yang meliputi attitude (sikap optimis), awareness (kesadaran penuh) dan authenticity (keautentikan diri). “Puasa melatih kita memilih sikap yang positif, menghadirkan kesadaran saat ini, dan menjadi diri yang autentik di hadapan Allah, bukan sekadar di hadapan manusia,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti dimensi psikologis puasa, khususnya dalam melatih pengendalian diri (self-regulation). Kemampuan menahan dorongan internal dinilai sangat menentukan kualitas hidup seseorang. “Puasa itu latihan pengendalian impuls. Orang yang kuat self-regulation-nya cenderung lebih stabil, lebih bahagia, dan lebih sukses. Karena ia tidak dikendalikan insting, tapi dikendalikan nilai,” paparnya.

Ia juga mengaitkan puasa dengan teori delayed gratification atau kemampuan menunda kesenangan. “Puasa adalah praktik tahunan menunda kesenangan. Kita mampu menahan yang halal sekalipun, demi tujuan yang lebih besar, yaitu ketakwaan,” ujarnya.

Di akhir penyampaian, Khoiruddin merangkum proses spiritual puasa sebagai sebuah perjalanan utuh. “Puasa melahirkan pengendalian diri, dari situ terjadi pembersihan hati, lalu tumbuh ketakwaan. Ketakwaan menghadirkan falah, dan pada akhirnya melahirkan kebahagiaan dunia dan akhirat,” pungkasnya.

Melalui kegiatan tabligh akbar tersebut, UNIMMA berharap nilai-nilai spiritual yang disampaikan dapat menjadi penguat keimanan sivitas akademika dalam menyambut bulan suci Ramadhan, sehingga kehadiran Ramadhan tidak hanya disambut secara seremonial, tetapi juga dengan kesiapan iman, hati, dan amal.