Hasil hortikultura dari Kabupaten Magelang khususnya di Sawangan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi. Kubis, sawi, wortel, daun bawang, pakcoy, hingga cabai tumbuh subur di wilayah lereng dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, sebagian hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk segar tanpa pengolahan, kemasan, maupun identitas merek.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) yang terdiri dari Dr. Diesyana Ajeng Pramesti, S.E., M.Sc., Dr. Siti Noor Khikmah, M.Si., Ak dan Bayu Aji Saputro, MT. Tim mendorong pelaku usaha dan kelompok tani untuk melihat potensi sayuran lokal tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari strategi pemasaran dan pengembangan identitas produk.

Ajeng mengatakan, melimpahnya hasil panen belum otomatis meningkatkan posisi tawar petani. “Ketika produksi meningkat pada masa panen raya, harga sayuran dapat mengalami penurunan karena produk dijual sebagai komoditas mentah dan sangat bergantung pada kondisi pasar,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun merek sebagai identitas produk. Merek menjadi bagian penting agar produk lokal memiliki pembeda sekaligus lebih mudah dikenali konsumen. “Sayuran dari Magelang sebenarnya memiliki keunggulan dari sisi kualitas dan lingkungan produksinya. Yang perlu diperkuat adalah bagaimana keunggulan tersebut diterjemahkan menjadi identitas yang mudah dikenali dan diingat konsumen,” jelasnya.

Ia menambahkan, merek bukan sekadar nama atau stiker yang ditempel pada kemasan. Lebih dari itu, merek menjadi cara sebuah produk membangun ingatan dan kepercayaan konsumen. Karena itu, pemilihan nama perlu mempertimbangkan beberapa hal, seperti singkat, mudah diingat, memiliki simbol atau logo yang menarik, serta mampu mencerminkan asal dan keunggulan produk.

Karakter Magelang sebagai daerah dengan kawasan pertanian di lereng pegunungan, misalnya, dapat menjadi bagian dari identitas produk. Kesan sejuk, segar, dan hasil pertanian pegunungan merupakan karakter yang dapat diolah menjadi cerita produk sehingga memiliki pembeda ketika dipasarkan lebih luas. “Setiap nama tentu membawa cerita dan doa. Harapannya, ketika identitas produk dibangun dengan baik, masyarakat tidak hanya mengenal sayurannya sebagai hasil panen, tetapi juga mengenal asal, cerita, dan nilai yang ada di balik produk tersebut,” tuturnya.

Selain membangun identitas, tim juga menekankan pentingnya perlindungan merek melalui pendaftaran di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) untuk melindungi identitas produk yang telah dibangun sekaligus mendukung pengembangan usaha ke pasar yang lebih luas.

Melalui pengabdian tersebut, Tim PKM UNIMMA mendorong agar potensi hortikultura Magelang tidak berhenti sebagai komoditas segar yang cepat berpindah dari petani ke pasar. Pengembangan identitas, merek, dan strategi pemasaran diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang pasar bagi produk lokal.