Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) bersama Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) mengimplementasikan kolaborasi pengabdian kepada masyarakat (PKM) melalui kegiatan Pelatihan Pencegahan dan Stop Bullying. Acara dilaksanakan di SMP Muhammadiyah Inovatif Mertoyudan, Magelang, pada Kamis (5/2).
Dr. Khusnul Laely, M.Pd, dosen UNIMMA sekaligus Ketua PKM kolaborasi mengatakan, kegiatan tersebut menjadi wujud sinergi antarperguruan tinggi Muhammadiyah dalam memperkuat peran edukatif kampus, khususnya dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak. “Isu bullying masih menjadi tantangan tersendiri di lingkungan pendidikan sehingga memerlukan intervensi bersama. Melalui kolaborasi PKM ini, kami ingin menghadirkan edukasi bahwa bullying bukan hanya persoalan individu, tetapi ekosistem,” ujarnya.
Sementara itu, Abdul Rokhim, S.Pd, Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Inovatif Mertoyudan, menyambut baik pelatihan tersebut dan menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan sekolahnya yang sedang bertumbuh. “Ini materi yang kami tunggu. Sekolah kami memang masih baru berkembang dan tentu tidak lepas dari berbagai permasalahan. Kami berharap melalui pelatihan ini, kami bisa menemukan solusi dan mendapatkan pendampingan ilmu agar sekolah yang masih seperti tunas ini dapat tumbuh besar dan siap menghadapi berbagai persoalan,” tuturnya.
Dalam sesi materi, Nurfi Laili, M.Psi., Psikolog, Dosen Psikologi UMSIDA, memaparkan materi berjudul “Respect Me, Respect You: Bebas Bullying, Ciptakan Sekolah Aman & Nyaman”. Ia menjelaskan mulai dari definisi, prevalensi, penyebab, jenis bullying, hingga berbagai peran yang muncul dalam peristiwa bullying serta peran strategis sekolah dalam penanganannya.
Peserta juga diajak mengenali ciri-ciri pelaku bullying, di antaranya bersikap menantang dan agresif, memiliki empati afektif namun rendah empati kognitif, dan berkepribadian impulsif dan cenderung melakukan moral disengagement.
Nurfi juga menegaskan bahwa upaya pencegahan dan penanganan bullying tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan komitmen bersama dan berkelanjutan dari seluruh unsur sekolah. “Sekolah perlu memiliki program sekolah ramah anak yang selaras dengan regulasi pemerintah. Selain itu, membangun persamaan persepsi seluruh warga sekolah tentang bullying, menetapkan aturan yang jelas dan tegas, serta berkomitmen menjalankan program anti-bullying secara berkelanjutan,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan terbangun kesadaran kolektif seluruh unsur sekolah untuk mencegah bullying sejak dini, sekaligus memperkuat kolaborasi UNIMMA dan UMSIDA dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan psikososial peserta didik.