Desa Bener merupakan salah satu desa di Kabupaten Purworejo seluas wilayah 356 Ha dengan kondisi geografis terdiri dari perbukitan. Desa Bener memiliki  6 RW dan  salah satunya adalah RW 05 yang terdiri dari 3 RT dengan jumlah penduduk sebanyak 867 jiwa. Data primer  dari Puskesmas didapatkan hasil bahwa mayoritas penduduk terdeteksi mengalami hipertensi dan beberapa penyakit degeneratif lainnya yaitu diabetes mellitus dan stroke.

Informasi terkait penyakit, perawatan dan pencegahannya masih minim. Jika ada warga yang sakit, pertolongan pertama langsung ke bidan setempat, kemudian beberapa diantaranya memanfatkan Puskesmas dan Rumah Sakit jika sudah dirasa parah.

Melihat permasalahan kesehatan di Desa Bener khususnya RW 05 ini, dosen Fikes UM Magelang yaitu Ns.Rohmayanti, M.Kep Ketua dan Ns. Margono, M.Kep anggota serta empat mahasiswa  Keperawatan Fikes  UM Magelang melaksanakan pengabdian masyarakat berupa pembentukan komunitas senam sehat di RW 05 Desa Bener, Purworejo. Rohma nengungkapkan, kegiatan tersebut dituangkan dalam proposal berjudul Program Kemitraan Universitas (PKU) Komunitas Senam Sehat, yang kemudian menjadi salah satu PKU yang didanai UM Magelang tahun 2017.

Kegiatan itu, lanjut Rohma, bertujuan untuk tindakan preventif mencegah terjadinya penyakit degeneratif melalui kegiatan penyuluhan kesehatan dan pemberian ketrampilan kesehatan pada kader kesehatan. Pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat ini dilaksanakan dengan metode Adactive Collaboration Management (ACM) yakni melalui pendekatan komunikasi masyarakat dalam menemukan dan mengenali permasalahannya. “Setelah mengetahui masalahnya, kami lalu mempelajari permasalahan kemudian menentukan solusinya,” kata Rohma.

Pelaksanaan pengabdian  itu dilakukan dalam beberapa kegiatan yakni senam sehat, pelatihan pengukuran tekanan darah dan nadi, informasi tentang penyakit degeneratif, serta praktek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pelaksanaan senam sehat atau aerobic dilakukan secara bertahap yakni dengan model  low impact  dalam minggu pertama dan model  high impact  dengan zumba pada minggu berikutnya. Rohma menambahkan, sebelum pelaksanaan senam seluruh  peserta di cek tekanan darah dan nadi terlebih dahulu. Jika  kondisinya memungkinkan, kata Rohma,  mereka baru boleh ikut senam.  Peserta juga mendapat Pelatihan pengukuran tekanan darah, nadi serta penggunaan tes gula darah sehingga bisa melakukannya sendiri.

Kegiatan yang dilakukan mulai bulan Agustus tersebut hingga kini masih terus dilakukan.  Mereka juga mendapatkan informasi tentang penyakit degeneratif dan pencegahannya yang disampaikan oleh Ns. Margono M.Kep. Informasi tentang penyakit degeneratif Hipertensi dan Penyakit Jantung, Stroke sekaligus pelaksanaan kegiatan pemberian pelatihan keterampilan terapi komplementer untuk mengatasinya juga diperoleh warga. Ada juga kegiatan yang ditujukan untuk anak-anak yakni informasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), antara lain cara  mencuci tangan dan gosok gigi yang benar.

Ketika melakukan monitoring dan evaluasi, Rohma mendapatkan progress yang menggembirakan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. ”Beberapa peserta senam menyampaikan mereka menjadi lebih bugar setelah rutin melakukan senam, selain itu mereka sudah bisa  melakukan mengecekan tensi dan darah sendiri. Pada kegiatan penyampaian informasi  tentang Diabetes Mellitus pada peserta. “Pada awal kegiatan melalui pretest didapatkan hasil 50% peserta belum memahami tentang penyakit degeneratif tersebut, setelah kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan sebanyak 95%,” ungkap Rohma.

Untuk pengetahuan dan ketrampilan mengatasi penyakit jantung dan hipertensi, sebanyak 90% peserta memahami hipertensi dan penyakit jantung setelah mengikuti pelatihan. Seluruh peserta juga mampu mendemonstrasikan akupresur pada 3 dari 6 titik yang diajarkan serta mampu mendemostrasikan titik untuk mengurangi hipertensi. Pada kegiatan PHBS, anak-anak antusias mendemonstrasikan  cara cuci tangan dan gosok gigi dengan baik setelah diberikan arahan dari tim.

HUMAS