Pengalaman berbeda dijalani dr. Muharrom Hijrie Nurpatikana, Sp.B., FICS, Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), saat bertugas sebagai relawan dalam penanganan bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama hampir tiga pekan menjalankan tugas, sejak 21 Agustus hingga 9 September 2026, dr. Hijrie bersama tim Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah berada di Dampek, Manggarai, salah satu wilayah yang terdampak cukup parah.
Setibanya di lokasi, tim mendirikan rumah sakit lapangan dengan layanan kesehatan setara puskesmas rawat jalan yang dilengkapi peralatan serta didukung tenaga medis dan nonmedis. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi penting karena puskesmas setempat roboh akibat gempa sehingga layanan kesehatan masyarakat turut terdampak. “Saat kami tiba di sana sebenarnya sudah sekitar seminggu pasca kejadian, sehingga korban sudah banyak ditangani. Sehingga kami melayani kontrol pasien-pasien tersebut, termasuk pasien puskesmas yang kontrol menggantikan rawat jalannya puskesmas,” ujarnya.
dr. Hijrie yang berangkat bersama 23 orang relawan dan menjadi salah satu dari dua dokter dalam tim tersebut mengatakan, kasus yang paling banyak ditemui selama bertugas adalah trauma fisik. Selain menangani dampak langsung bencana, tim juga melayani masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan lanjutan. “Hal yang paling berkesan buat saya sebenarnya adalah banyak testimoni dari pasien yang merasa sangat terbantu. Dan saat pulang terasa berat, karena sebenarnya masih ada banyak pasien bedah yang perlu penanganan meskipun bukan sakit akibat terdampak bencana, tapi sakit bawaan. Karena lokasi mereka jauh dari rumah sakit, mereka harus menempuh 5 jam menuju rumah sakit terdekat. Jadi saat saya datang dan tahu kalau saya dokter bedah, mereka punya harapan tinggi untuk dilakukan tindakan,” tuturnya.
Lebih lanjut, dr. Hijrie menyampaikan, pengalaman bertugasnya tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Bagi masyarakat awam, penanganan korban dengan kondisi tertentu tidak dapat dilakukan tanpa bantuan tenaga profesional. “Kuncinya adalah mitigasi. Sebagai awam, ketika melihat korban memang tidak bisa melakukan apa-apa. Penanganan hanya bisa dilakukan oleh profesional,” ujarnya.
Melalui keterlibatan dosennya dalam EMT, UNIMMA terus mendorong kontribusi sivitas akademika melalui keilmuan dan profesinya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Hal tersebut juga memperkaya pengalaman profesional dosen FK UNIMMA dalam memberikan layanan kesehatan di wilayah dengan keterbatasan akses.
