Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) terus menanamkan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sivitas akademika. Salah satunya melalui kajian rutin Jumat pagi SIMPATI (Siraman Pelita Hati) yang menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman keislaman sekaligus mengaitkannya dengan profesionalisme kerja di lingkungan kampus.
Kajian dilaksanakan pada Jumat (9/10) di dua lokasi, yaitu Kampus 1 bersama Ir. Eko Muh Widodo, M.T. dan Kampus 2 UNIMMA bersama KH. Muhammad Nasirudin, M.A., yang merupakan Badan Pembina Harian (BPH) UNIMMA.
Dalam kajian di Kampus 2, Nasirudin menyampaikan materi berjudul Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah sebagai Kompas Moral Kinerja Dosen dan Tenaga Kependidikan (tendik) UNIMMA. Dijelaskan, MKCH merupakan dokumen ideologis resmi Muhammadiyah yang disahkan pada Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo dan disempurnakan pada Tanwir 1970 di Yogyakarta. “Sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), UNIMMA menuntut SDM (Sumber Daya Manusia) tidak hanya bekerja secara professional tetapi juga menjadikannya sebagai sarana ibadah dan dakwah sesuai dengan prinsip dasar persyarikatan. Ada standar kompetensi moral dan ada standar kompetensi kerja,” ujarnya.
Nasirudin memaparkan empat landasan MKCH yang relevan dengan pelaksanaan tugas dosen dan tendik di UNIMMA. Landasan pertama adalah teologis, yaitu memandang pekerjaan sebagai manifestasi tauhid. “Dosen mengajar dan meneliti bukan sekadar untuk mengejar pemenuhan BKD atau kenaikan jabatan akademis melainkan bentuk pertanggungjawaban teologis untuk mencerdaskan umat demi mengharap ridho Allah,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan, nilai tauhid menjadi dasar bagi tendik dalam menjalankan tugas pelayanan dan pengelolaan kampus. “Tendik harus melayani mahasiswa, mengelola administrasi dan merawat fasilitas kampus didasari oleh keikhlasan, kejujuran dan integritas tinggi karena meyakini bahwa Allah Maha Melihat setiap aktivitas kerja kita,” tambahnya.
Selanjutnya, landasan kedua berkaitan dengan akhlak dan pelayanan. MKCH memuat ajaran Islam yang mencakup aspek akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam membangun budaya kerja yang profesional sekaligus berlandaskan etika Islam. “Dalam konteks profesionalisme di UNIMMA ada kompas akhlak yang menjadi benteng moral dari segala bentuk penyimpangan etika publik dan ada etika kerja, dosen dan tendik diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai islam berkemajuan yaitu kerja yang disiplin, ramah, solutif serta berorientasi pada kemajuan institusi,” jelasnya.
Landasan ketiga adalah dakwah melalui implementasi amar ma’ruf nahi munkar. Menurut Nasirudin, nilai dakwah perlu tercermin dalam perilaku dan lingkungan kerja sehari-hari, baik melalui keteladanan dosen maupun dukungan tendik dalam menciptakan suasana kampus yang kondusif. “Kampus UNIMMA dikondisikan sebagai pusat dakwah yaitu dosen bertindak sebagai uswatun hasanah bagi Mahasiswa, dan tendik mendukung terciptanya Lingkungan kerja yang religious, bersih, tertib dan kondusif,” ujarnya.
Kemudian, landasan keempat berkaitan dengan pengelolaan SDM yang selaras dengan sistem tata kelola SDM UNIMMA. Penerapan nilai MKCH dalam aspek ini tercermin melalui regulasi internal kampus yang mengarahkan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pegawai agar sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah. “Dengan menjadikan MKCH sebagai kompas moral, kinerja dosen dan tendik UNIMMA tidak hanya terjebak pada formalitas rutinitas kerja melainkan bertransformasi menjadi gerakan dakwah berkemajuan guna menciptakan universitas yang unggul dan berkemajuan,” pungkasnya.
Melalui kajian SIMPATI, UNIMMA terus mengintegrasikan nilai AIK dalam budaya kerja serta tata kelola institusi. MKCH Muhammadiyah menjadi salah satu landasan untuk membangun SDM yang profesional, berintegritas, dan menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah serta dakwah berkemajuan.
